Jumat, 30 April 2010

ayat-ayat tentang kebajikan dan kejahatan

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Quranul karim adalah kitab yang oleh Rasulullah dinyatakan sebagai “ma’dubatullah (hidangan Ilahi)”. Hidangan ini membantu manusia untuk memperdalam pemahaman dsan penghayatan tentang Islam dan merupakan pelita bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Kitab suci ini juga memperkenalan dirinya sebagai hudan li an-naas (petunjuk bagi seluruh umat manusia).

Al-Quran memiliki tiga aspek: 1) Aqidah, 2) Syari’ah, 3) Aklak. Pencapaian ketiga tujuan pokok ini diusahaan oleh Al-Quran melalui empat cara, yaitu:

1. peritah memperhatikan alam raya

2. perintah mengamati pertumbuhan dan perkembangan manusia

3. kisah-kisah

4. janji serta ancaman duniawi atau ukhrawi

Tafsir Al-Quran adalah penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai kemampuan manusia. Kemampuan itu bertingkat-tingkat, sehingga apa yang dicerna atau diperoleh oleh seorang penafsir ari Al-Quran bertingkat-tingkat pula. Tujuan dari tafsir itu sendiri adalah memahami ayat-ayat Al-Quran serta maknanya, hukum-hukumnya, hikmah-hikmahnya, akhlak-akhlaknya serta petunjuk-petunjuknya untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Faidah kita mempelajarinya adalah memelihara diri dari kesalahan dalam memahami Al-Quran. Sementara maksud mempelajari tafsir adalah mengetahui petunjuk-petunjuk Al-Quran, hukum-hukum dengan cara yang tepat.

BAB II

PEMBAHASAN

ë surah Al An’am ayat 160

Dalam ayat ini Allah menjelaskan pembalasan umum atas amal kebajikan di akhirat, yaitu iman dan amal saleh, serta pembalasan atas amal kenmaksiatan, yaitu kufur dan keji, baik yang lahir maupun yang batin.

Ayat 160

Barangsiapa mengerjakan sesuatu kebajikan, maka (pembalasan) baginya sepuluh ganda kebajikan. Barang siapa melakukan kejahatan (kemaksiatan), maka tidak diberi pembalasan kecuali sesuai (seimbang) dengan apa yang dilakukannya. Mereka sedikitpun tidak dianiaya (dizalimi)”

ü Tafsir

- man jaa-a bil hasanati fa lahuu ‘asy-ru ma am-tsaalihaa = barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan, maka (pembalasan) baginya sepuluh ganda kebajikan.

maksudnya adalah siapa yang datang pada hari kiamat dengan sesuatu pekerjaan yang baik, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali lipat dari kebajikan yang dilakukannya itu. Bahkan, mungkin akan dilipatgandakan pembalasannya sampai 700 kali atau lebih, menurut kehendak Allah.

Hal ini berkaitan dengan hadist qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas :

Sesungguhnya Allah menulis semua kebaikan dan semua kejahatan (kemaksiatan). Barangsiapa ingin mengerjakan suatu kebajikan, tetapi tidak jadi dikerjakan, Allah menulis untuknya satu kebajikan yang sempurna. Jika dia ingin mengerjakan kebajikan itu, maka Allah menulis untuknya sepuluh kebajikan sampai 700 kali sehingga berganda-ganda kelipatannya. Barang siapa yang ingin mengerjakan satu kejahatan (kemaksiatan), tetapi batal mengerjakannya, niscaya Allah menulisnyasatu kebajikan yang sempurna. Jika dia nmengerjakannya, maka Allah menulis baginya hanya satu kejahatan.”

yang dimaksud dengan “Allah menulis kebajikan dan kejahatan” adalah Allah memerintahkan para malaikat untuk mencatatnya.

Dalam suatu hadist dinyatakan bahwa jika niat berbuat jahat (maksiat) itu ditinggalkan karena Allah, barulah ditulis sebagai suatu kebajikan.

- Wa man jaa-a bis sayyi-ati fa laa yujzaa illaa mits-lahaa = barangsiapa melakukan kejahatan (kemaksiatan), maka tidak diberi pembalasan kecuali sesuai (seimbang) dengan apa yang dilakukannya.

Siapa yang melakukan perbuatan berdosa, maka akan diberi pembalasan seimbang dengan apa yang diperbuatnya, tidak dilebihkan (dilipatgandakan) atau dikurangi.

- Wa hum laa yuzh-lamuun = mereka sedikit pun tidak dianiaya (dizhalimi).

Masing-masing golongan, yaitu golongan yang berbuat kebajikan dan golongan yang berbuat kemaksiatan, haknya (hak memperoleh pembalasan atau amal perbuatannya) tidak akan dikurangi atau tidak akan dizhalimi. Baik oleh Allah sendiri ataupun oleh makhluk yang lain.

Sementara dalam tafsir al-misbah, firman-Nya: barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipatnya; penilaian dan pelipatgandaan itu tentunya kembali kepada Allah swt. Disisi lain, ia tidak hanya terbatas pada sepuluh kali lipat, tetapi bisa melebihinya sebagaimana diisyaratkan oleh Qs. Al-Baqarah [2]: 261: “perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yag menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Firman-Nya: barangsiapa membawa perbuatan yang buruk maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengannya, penggalan ayat ini ditampilkan dalam bentuk pembatasan, yaitu melalui kalimat: tidak diberi pembalasan melainkan, karena yang ditekankan di sini adlah sisi keadilan Ilahi, berbeda dengan penggalan yang lalu, di sana yang ingin ditekankan di sini adalah sisi kemurahan-Nya. Perlu dicatat bahwa kemurahan Ilahi akan diperoleh juga jika kejahatan yang telah direncanakan dibatalkan oleh kesadaran perencananya, karena kesadaran dan pembatalan itu dinilai sebagai satu kebaikan.

Thabathaba’I mengemukakan makna tambahan di samping makna di atas, berdasarkan hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Yakni, setelah diuraikan pada ayat-ayat yang lalu tentang persatuan dan kesatuan dalam kebenaran juga perselisihan dan pengelompokan dalam tujuan, maka apa yang dikemukakan itu merupakan dua hal yang bertolak belakang, yang baik dan buruk. Allah akan membalas masing-masing dengan pembalasan yang sesuai tanpa sedikit penganiayaan pun: “barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya sepuluh kali lipatnya, dan barang siapa membawa perbuatan yang buruk, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengannya.” Dengan demikian, ayat ini serupa dengan ayat-ayat lain seperti firman-Nya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa” (Qs. Asy-Syura [42]: 40).

ë Surah an-Nisaa’ ayat 79

Ø Asbabunnuzul ayat

Ayat ini diturunkan untuk menolak pengaitan nasib buruk (sial) dengan seseorang. Suatu bencana (musibah) yang menimpa suatu masyarakat tidak bisa dikatakan akibat kesialan seseorang.

Ayat 79

apa pun kebaikan yang terjadi terhadapmu adalah dari Allah. Adapun kejahatan yang terjadi atas dirimu adalah dari (kesalahan) kamu. Kami telah mengutus engkau menjadi rasul kepada manusia dan cukup Allah menjadi saksi.”

ü Tafsir

- Maa a-shaabaka min hasanatin faminallaahi wa maa a-shaabaka min sayyi-atin famin nafsika =apapun kebaikan yang terjadi pada dirimu adalah dari Allah. Adapun kejahatan yang terjadi atas dirimu adalah dari (kesalahan) kamu.

Maksud dari ayat ini adalah, tiap-tiap kebajikan yang kita peroleh merupakan keutamaan dari Allah dan limpahan karunia-Nya. Allahlah yang memudahkan bagimu untuk mendapatkan banyak kemanfaatan. Dengan taufik-Nya, kita bisa menempuh jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Sebaliknya, semua keburukan yang menimpa kita adalah dari kita sendiri, karena kita tidak mau menempuh jalan yang dikehendaki akal dan hikmah atau menurut sunnah-sunnah Allah.

Mereka menuduh bahwa penyakit yang menimpa mereka disebabkan oleh Muhammad. Padahal, penyakit-penyakit keturunan adalah disebabkan oleh mereka sendiri.

Disini ada dua hal yang harus diperhatikan:

1. Segala sesuatu datang dari sisi Allah. Maksudnya Allahlah yang menjadikan (menciptakan) segala yang ada, baik yang terlihat maupun yang ghaib. Allah pula yang menciptakan aturan-aturan dan sunnah-sunnah (hukum objektif) agar kita mencapai sesuatu yang diinginkan dengan usaha kita sendiri. Segala sesuatu dalam pandangan ini, dianggap baik karena merupakan kenyataan atas keindahan ciptaan Allah.

2. Manusia tidak terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak menyenangkan, melainkan karena kecerobohan mereka sendiri dalam mengetahui sebab-sebab dan hukum-hukum alam. Oleh karena itu, keburukan disandarkan kepada manusia sebagai penyebabnya. Sakit, misalnya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan manusia. Terjadinya sakit karena kelalaian manusia dalam menjalankan aturan-aturan makan, minum, bekerja, dan sebagainya.

Kadangkala sesuatu disandarkan kepada Allah. Allahlah yang menciptakan sesuatu itu, walaupun di dalam sesuatu itu, juga terdapat hasil usaha manusia, baik dalam kebajikan ataupun keburukan. Dengan pandangan ini, pada diri manusia tertanam rasa optimistis kepada Allah, selain berhati-hati untuk menhindari terjadinya sesuatu keburukan.

Beginilah yang berlaku di antara manusia, dua hal ini di kuatkan dengan nash-nash Al-Quran da as-Sunnah. Dengan pengertian inilah dikatakan, segala kebaikan yang kita peroleh merupakan keutamaan Allah semata, dan segala keburukan berasal dari manusia sendiri. Masing-masing pendapat itu ada tempatnya.

- Wa arsalnaaka lin naasi rasuulaa = kami telah utus engkau menjadi rasul kepada manusia.

Tafsir ayat ini yaitu, Hai Muhammad, engkau adalah seorang rasul, yang bertugas menyampaikan wahyu Ilahi. Engkau tidak campur tangan dalam hal-hal yang menimpa manusia. Mereka menuduh bahwa bencana-bencana yang terjadi itu disebabkan oleh kemalanganmu. Itu adalah tuduhan yang tidak berdasarkan akal sehat ataupun dalil Kitab, tetapi sebagai tuduhan kahufarat yang dibuat-buat.

- Wa kafaa billahi syahiidaa = dan cukup Allahlah yang menjadi saksi.

Allah sendiri cukup menjadi saksi bagiu mereka. Maksudnya, Allah menjelaskan bahwa Muhammad itu di utus kepada umat manusia sebagai pemberi kabar (ajaran) yang menggembirakan bagi orang yang beriman dan kabar menakutkan bagi orang yang kufur. Bukan sebagai pengbah hukum-hukum alam atau menggantinya.

ë Surah Huud ayat 114

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita mengerjakan seutama-utama ibadat yaitu sembahyang dan semulia-mulia keutamaan adalah sabar.

Ø Asbabunnuzul ayat

diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim dari hadist Ibnu Mas’ud yang menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki yang telah mencium perempuan bukan muhrimnya. Kemudian laki-laki itu datang kepada Nabi saw. lalu menceritakan semua yang dialaminya itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Qs Huud, 114.

Selanjutnya laki-laki itu bertanya: “apakah hal ini khusus bagi dirikub saja?”. Maka Nabi saw. menjawab: “berlaku untuk ummatku semuanya”. Imam Turmudzi dan lain-lainya telah meriwayatkan sebuah hadis melalui Abul yusr yang telah menceritakan, aku kedatangan seorang wanita yang mau membeli buah kurma. Lalu aku katakana kepadanya , bahwa di dalam rumah terdapat buah kurma yang lebih baik dari pada yang diluar. Kemudian wanita itu masuk ke dalam rumah bersamaku, dan (sesampainya di dalam rumah) aku peluk dia dan kuciumi. Setelah peristiwa itu aku menghadap kepada Rasulullah saw. dan menceritakan semua kisah yang kualami itu kepadanya. Maka Nabi saw. bersabda: “apakah engkau berani berbuat khianat seperti itu terhadap istri seorang mijahid yang berjuang di jalan Allah?”. Selanjutnya Rasulullah saw. menundukkan kepalanya dalam waktu yang cukup lama hingga Allah s.w.t. menurunkan wahyu-Nya kepadanya, yaitu:

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang)....(Qs huud,114)

Sampai dengan firman-Nya:

Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat(Qs huud,114)

Ayat 114

”dirikanlah sembahyang pada dua tepi siang dan pada permulaan malam. Sesungguhnya semua semua kebajikan menghilangkan kejahatan. Itulah perigatan bagi semua orang yang suka mengambil pelajaran .”

ü Tafsir

- wa aqimish shalaata tharafayin nahaari wa zulafam minal laili = dirikanlah sembahyang pada dua tepi siang dan pada permulaan malam.

Tunaikanlah sembahyang dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya, yakni sempyrna rukunnya, sempurna syarat, dan sempurnahaiahnya (cara-caranya), pada awal siang dan akhirnya, serta pada beberapa malam yang masuk kedalam siang dan beberapa jam siang yang masuk ke dalam malam.

Pembatasan waktu ini melengkapi semua waktu sembahyang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Kami yang lain. Petang, adalah waktu antara zhuhur dan magrib, yaitu sembahyang ashar. Sembahyang magrib adalah ‘isya yang pertama dan ‘atamah adalah isya yang kedua, yaitu merah telah hilang.

Yang dimaksud dengan matahari tergelincir adalah mulai tergelincirnya mtahari sampai ke permulaan malam. Masuk ke dalamnya, selain sembahyang zhuhur adalah sembahyang ashar, magrib, dan isya. Yamg dimaksud dengan quraanal fajri adalah sembahyang subuh yang disaksikan oleh para malikat.

Dikhususkan penyebutan sembahyang disini karena sembahyang merupakan seni ibadat untuk menyuburkan iman dan menolong mereka dari segala amalan yang lain.

- Innal hasanaati yudz-hibnas sayyi-aati = sesungguhnya segala kebaikan itu menghlangkan kejahatan (kemaksiatan)

Semua perbuatan kebajikan akan menutup dosa-dosa kejahatan (kemasiatan), sebab kebajikan mengheningkan jiwa dan memperbaikinya, serta menghapuskan pengaruh pekerjaan yang keji dan merusak jiwa.

Yang dimaksud dengan “kebaikan-kebaikan” adalah amal saleh yang bersifat umum. Sedangkan yang dimaksud dengan “kejahatan-kejahatan” disni adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar hanya ditutupi dengan bertaubat kepada Allah.

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa seorang laki-laki mencium seorang perempuan, lalu datang kepada Nabi mengajukan masalah itu. Seolah dia bermaksud bertanya, apakah yang menjadi kaffarat bagi dosanya itu. Maka turunlah ayat ini dan dirikanlah sembahyang pada dua tepi siang. Orang itu berkata: “Apakah itu hanya untuk diriku saja?” jawab Nabi: “ untuk semua orang yang mengamalkannya dari ummatku”.

Hadist ini memberikan pengertian bahwa dosa yang tidak ditentukan had (hukum) untuknya, dikaffaratkan oleh amal saleh. Adapun marhalah-marhalah tobat yang benar adalah:

1. Mengetahui bencana dosa yang sudah kita kerjakan

2. Menyesali diri karena telah berdosa

3. Menguatkan kemampuan untuk tidak berbuat dosa itu lagi, dan

4. Mengerjakan amalan yang saleh, yang menyucikan jiwa.

ë Surah Al An’am ayat 22

Dalam ayat ini Allah menjelaskan kedustaan mereka (orang madidah) dan tuduhannya bahwa mereka tidak mengenal Muhammad. Sebenarnya mereka menegenal Muhammad dengan kenabian dan kerasulannya, sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri.

Ø Asbabunnuzul ayat

Ayat ini turun ketika Umar tiba di Madinah, beliau bertanya kepada Abdullah ibn Salam tentang pengetahuannya mengenai Muhammad. Maka dia menjawab: “wahai Umar, aku mengenalnya ketika aku telah melihatnya, seperti aku mengenal anakku sendiri. Aku mengakui bahwa dia hak (benar) disisi Allah.”

Ayat 22

Dan (ingatlah) pada hari kamis mengumpulkan mereka, Kami bertanya kepada orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah: “manakah orang-orang yang akan menjadi penolongmu, yang selain Allah yang kamu dakwakan.”

Ø Tafsir

- Wa yauma nakh-syuruhum jamii’an tsumma naquulu lil la-dziina asy-ruku aina syurakaa-ukumul la-dziina kuntum taz’umuun = dan (ingatlah) pada hari Kami mengumpulkan mereka, Kami bertanya kepada orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah: “manakah orang-orang yang akan menjadi penolongmu, yang selain Allah yang kamu dakwakan?”

Sebutkan, wahai Rasul, kepada mereka tentang hari, yang Kami mengumpulkan mereka dari berbagi derajat. Tidak ada jarak antara satu agama dengan agama yang lain, semua memandang kufur itu satu. Katakana juga kepada mereka yang mempersekutukan Allah: “mana penolong-penolongmu(sesembahanmu selain Allah)? Mereka tidak terlihat disni beserta kamu (Qs. Al an’am: 94). Pertanyaan ini semata untuk menegur mereka.

Dalam tafsir al misbah ayat ini ditafsirkan:

Kalaupun di dunia ini mereka belum meraskan akibat penganiayaan itu, maka suatu ketika mereka pasti akan menyesal, yakni pada hari kiamat nanti. Karena itu Dan ingatlah, kebohongan mereka terhadap Allah dalam kehidupan dunia ini, ingatlah pada hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semua secara paksa dan dalam keadaan hina dina, baik Ahl al-Kitab, maupun kaum musyrikin serta apa yang mereka persekutukan dengan Allah, seperti berhala-berhala kemudian Kami melalui para malaikat berkata kepada orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, baik berhala, manusia, maupun cahaya atau gelap, bahkan sembahan apa saja: Dimanakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu kira dan akui secara lisan dalam pengalaman sebagai sekutu-sekutu Kami? Mintalah kepada mereka agar membantu dan menyelamatkan kamu dari siksa yang sedang akan kamu hadapi. Sungguh aneh sikap mereka ketika itu lagi jauh dari yang dapat dibayangkan, sebagaimana dipahami dari kata kemudian. Betapa tidak aneh, pada hari terbukanya segala tabir dan tersingkapnya segala kebohongan. Hal ini dikarenakan ketika itu pikiran mereka demikian kacau sehinggah tiadalah fitnah mereka, yakni jawaban dan ucapan ngawur yang tidak berdasar dari mereka, kecuali mengatakan: Demi Allah, Tuhan kami, demikian mereka bersumpah mengakui-Nya sebagai Tuhan dan demikian juga mereka berbohong dengan berkata kami tidak pernah mempersekutukan Allah. Bukankah ketika di dunia mereka mempersekutukan-Nya?

Ayat ini juga dapat dihubungkan dengan ayat yang lalu dengan menjadikan ayat diatas sebagai jawaban dari satu pertanyaan yang timbul dalam benak siapa yang mendengar ayat yang lalu yang menyatakan bahwa tidak akan berbahagia orang-orang yang zhalim. Seakan-akan ada yang bertanya: “bagaimana mereka tidak akan bahagia?” pertanyaan ini dijawab, itu disebabkan karena kelak di hari Kemudian Allah akan menggiring mereka ke Padang Mahsyar dan meminta pertanggungjawaban atas dosa-dosa mereka, khususnya menyangkut persekutuan terhadap Allah.

Seperti terbaca diatas kata jami’an/ semua mencakup penyembah dan yang disembah selain Allah. Itu sebabnya lanjutan ayat menyatakan kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik, bukan menyatakan Kami berkata kepada mereka. Dihimpunnya yang disembah dan penyembah ditegaskan pula oleh (Qs. Ash-Shaffat[37]: 22): (Kepada malaikat diperintahkan): “kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah.”

Dihimpunnya sembahan-sembahan mereka itu, untuk leboh menampakkan kehinaan dan kerendahan serta ketidakberdayaan mereka, dan untuk membuktikan bahwa walau sembahan-sembahan itu hadir dihadapan mereka, namun mereka sedikitpun tidak dapat membantu, bahkan mereka akan berlepas diri dari apa yang dilakukan sembahan-sembahan itu demikian juga para penyembahnya. Dalam ayat lain dikemukakan bahwa Nabi Isa as. pun dihimpun bersama ummatnya (Qs. Al-Maidah [5]: 116) bahkan setan pun diperlakukan demikian.

Kata tsumma/ kemudian pada firman-Nya: Kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyri untuk mengisyaratkan jarak waktu penantian yang cukup lama antara keberadaan orang-orang musyrik dan sebahan mereka di padang Mahsyar, dengan perkataan/ pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Jarak waktu penantian itu, menjadikan mereka lebih gelisah, sekaligus menunjukkan betapa mereka tidak diperhatikan bahkan diabaikan begitu lama, untuk lebih menghina dan melecehkan mereka.

Kata aina/ di mana, digunakan untuk menanyakan tempat sesuatu, sebagaimana digunakan juga untuk menanyakan sesuatu walau tidak memiliki tempat, tetapi diharapkan apa yang ditanyakan itu menjadi perhatian atau dikerjakan. Seperti pertanyaan ‘Umar Ibn al-Khatthab ra. kepada seorang pria yang bermaksud menceraikan istrinya: “dimanakah amanah perkawinan yang engkau terima?” atau pertanyaan seorang pengembala ketika diminta oleh ‘Umar ra. agar menjual kambing milik tuannya, karena ketika itu pemilik kambing tidak ada; ketika itu sang pengembala berkata: “dan dimanakah Allah?”

Sebagaimana dikatakan di atas, sembahan-sembahan mereka ikut dikumpulkan di Padang Mahsyar. Jika demikian, pertanyaan tentang di mana pada ayat ini,bukanlah pertanyaan tempat keberadaan mereka, tetapi peran mereka dalam membantu penyembahnya. Pertanyaan itu dimaksudkan sebagai kecaman dan ejekan karena ketika itu sungguh jelas ketidakmampuan yang disembah menolong siapa yang pernah menyembahnya.

v Surah Al- Hijr ayat 39 – 40

Dalam ayat ini Allah menerangkan perintah-Nya kepada iblis untuk keluar dari golongan malaikat. Dalam hal ini juga diungkapkan Tanya jawab dengan iblis dan iblis hanya dapat mempengaruhi orang yang suka mengikutinya.

Ayat 39-40

berkatalah setan: “Wahai Tuhanku, aku bersumpah demi Kamu yang telah menyesatkan aku. Sungguh aku akan membuat segala macam kemaksiatan di muka bumi tampak indah bagi mereka dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”

Ø Tafsir

§ Qaala rabbi bi maa agh-waitanii la uzayyinanna lahum fil adhi wa la ugh-wiyannahum ajma’iin. Illaa ‘ibaadaka minhumul much-la-shiin = berkatalah setan: “Wahaia Tuhanku, aku bersumpah demi Kamu yang telah menyesatkan aku. Sungguh aku akan membuat segala macam kemaksiatan itu indah bagi mereka dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”

Merasa dirinya telah masuk kedalam makhluk yang sesat, iblis berkata kepada Allah: “Tuhanku, karena Engkau menyesatkan aku dan menghilangkan harappanku untuk memperoleh rahmat-Mu, maka aku akan membuat anak keturunan Adam akan memandang indah berbagai macam kemaksiatan. Aku akan menarik hati mereka untuk berbuat kemaksiatan. Aku akan menyesatkan mereka, sebagaimana Kamu menyesatka aku, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas mengerjakan ketaatan kepada-Mu dan kamu telah menaufikkannya untuk menerima hidayah-Mu. Terhadap mereka itu, aku tidak mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhinya.”

Dalam kitab lain ditafsirkan:

Kisah adam dan musuhnya disebut beberapa kali dalam al-Quran al-Karim. Namun di kisah ini mengandung pengulangan asal kejadian manusia, yaitu dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Tanah liat yang telah berubah baunya.

Bagaimanapun manusia hidup dalam jangka waktu tertentu atau jembatan yang dilalui oleh manusia menuju tempat kembalinya yang abadi sesuai dengan amal yang telah diperbuatnya di dunia. Manusia yang tertipu adalah manusia yang lupa akan Tuhannya, asalnya dan tempat kembalinya.

Iblis tidak memiliki kekuasaan atas manusia. Undang-undang tidak bias melindungi orang-orang yang lupa. Syaitan hanya mampu mengganggu dan merayu. Memperindah racun bagi orang-orang yang memakannya. Jadi siapa yang salah setelah nyata-nyata ada peringatan berulang-ulang? manusia harus menyadari dan merasakan bahwa tatkala Allah ridha, Dia akan mengampuni dosa-dosa, mengangkat derajat dan tatkala marah, tidak ada seorangpun yang akan selamat dari siksaan-Nya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang amat pedih” (49-50).


Daftar Rujukan

Ghazali, Syeikh Muhammad. Tafsir Tematik dalam Al-Quran. Gaya Media Pratama. Jakarta. 2004

Quthbi, Sayyid. Tafsir fi Shilalil Quran, jilid 3. gema insani. Jakarta. 2002

Quthbi, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Quran (surah al-An’am – surah al-‘araaf: 137), jilid 4. Gema Insani. Jakarta. 2002

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, vol 2. Lentera Hati. Jakarta. 2002

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, vol 4, surah al-An’am. Lentera Hati. Jakarta. 2002

Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy, Prof., Dr., Tafsir Quranul Majid an- Nuur 1 (surat 1-4). PT. Pustaka Rizki Putra. Semarang. 2000

Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy, Prof., Dr., Tafsir Quranul Majid an- Nuur 2 (surat 5-10). PT. Pustaka Rizki Putra. Semarang. 2000

Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy, Prof., Dr., Tafsir Quranul Majid an- Nuur 3 (surat 11-23). PT. Pustaka Rizki Putra. Semarang. 2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Laman

Free Blog Templates

welcome to my blog...
sharing ilmu, cerita-cerita atau ngegosip disini......
hehe

this is a very simple blog..because I'm a newbie here...

^_^

Friends Link

Tag Cloud

My Playlist

 
Template by Administrator Frelia | Anak SD | Blogger