Minggu, 15 Agustus 2010

Mencintai dengan sederhana

Td malam aq membaca sebuah cerita,n tahukah kalian...ada sebuah puisi menarik di cerita itu,sung6uh meng6ugah hati...dalam cerita itu, puisi tersebut di berikan oleh sang suami kepada istri-a...so sweet,benakku...berulang kali aq membacanya...






“Aq ingin mencintaimu dengan sederhana...
Melalui kata yang tak sempat diucapkan oleh awan kepada air yang menjadikannya tiada. . .


Aq ingin mencintaimu dengan sederhana...
Dengan kata yang tak sempat disampaikan oleh kayu kepada api yang menjadikannya abu. . .”




sung6uh sebuah puisi yg luar biasa. . .

Top of Form

hal yang jarang kita lakukan,,

pernahkah kita mereview semua kejadian yang kita alami selama seharian????

pernahkah terlintas di benak kita untuk memohon ampun pada Sang Pencipta akan semua khilaf dan salah?????

pernahkah kita meminta maaf pada orang yang telah kita sakiti pada hari ini????

pernahkah kita menyesal akan tikah laku kita hari ini??????

padahal muhasabah diri itu sangat penting..
untuk memperbaiki diri kita,, agar keesokan harinya menjadi insan yang lebih baik lagi...

simple way untuk bermuhasabah,,, tak perlu mencari ruang sunyi,,, atau pun hari dan waktu khusus...

hanya perlu memutar pikiran agar video kehidupan hari ini berputar di kepala atau mungkin di benak kita.....

naaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh.........
the way :

1. saat kepala kita telah menyentuh bantal,, dan tubuh telah rebah di kasur...eitss...jangan keburu tidur dulu,,,tapi,,,,,,,

2. coba ingat-ingat kembali apa yang telah kita lakukan selama seharian ini...

3. bandingkan,,mana yang lebih banyak kita lakukan,,dosa atau kebaikan????????
harus jujur lhoo sama diri sendiri....masa sich bohong...
-_-'

4. naaaaahhh...ini ne tantangan buat kita,,,,
meminta maaf pada mereka yang telah kita sakiti,,,
( daripada dosa kita tambah banyak,,mendingan ngurangi dosa kaaaaannn....lagian,,indah banget lho,,saat kita saling memaafkan...ingat!!! sebaik-baik orang adalah yang terlebih dahulu meminta maaf........)

truuuuzz.......berusaha untuk tidak mengulanginya....

coba dechh,,lakukan setiap hari,,menjelang tidur.........

seandainya kita benar-benar melakukannya sepenuh hati,,kita bakal menangis seraya memohon ampun pada Allah...karena begitu banyaknya dosa kita,,,

Top of Form

Bottom of Form

7 potensi yang di berikan oleh Allah SWT kepada kita....

"......Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi..." (SQ. Al-Baqarah: 30)



Sadarkah kita bahwa kita mengemban sebuah tugas mulia dari Allah SWT, yaitu sebagai khalifah di muka bumi, yang selalu harus ta'at kepada-Nya. Pernahkah kita mengingat perjuangan para utusan-Nya dalam memberi keteladanan kepada manusia bahwa hidup ini merupakan ibadah untuk menjalankan kehendak dan perintah-Nya.

Sesungguhnya Allah telah memberikan kita 7 potensi diri:

1. kekuatan iman
ini merupakan potensi paling utama ditanamkan dalam diri kita sebagai hamba-Nya. dari potensi inilah, kita selalu ingin mencari kedekatan kepada Allah SWT.

2. kekuatan impian
mimpi inilah yang menggerakkan setiap kita untuk terus berusaha, dan bekerja keras. Contohnya, Thomas Alfa Edison memimpikan dunia yang terang sampai akhirnya ia menemukan lampu pijar setelah hampir dua ribu kali percobaannya gagal dan gagal.
karena itu, bermimpilah tentang kebaikan, kesuksesan, dan kemakmuran untuk kemudian BEKERJA, BERUSAHA, dan BERDO'ALAH untuk menggapai impian itu.

3. kekuatan fokus
fokuslah pada satu tujuan yang ingin kita capai, bisa membuahkan hasil yang baik. Seperti,, kita fokus terhadap tujuan sebagai hamba Allah yang terbaik dalam kapasitas apapun.

4. kekuatan perjuangan
saat kita berjuang dengan sungguh-sungguh, maka kita pasti akan berhasil melewati rintangan-rintangan yang ada, hingga menghantarkan kita kepada kesuksesan.

5. kekuatan belajar
kita dikaruniai kekuatan untuk terus belajar dan belajar tentang kehidupan. Akal selalu kita gunakan untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan agar bisa mencapai kebahagiaan. ingatkah sabda Rasulullah?? "UTHLUBUL 'ILMA MINAL MAHDI ILA-LAHDI"...TUNTUTLAH ILMU DARI BUAIAN HINGGA KE LIANG LAHAT". long life learning bukan hanya sebagai slogan, melainkan sebagai suatu kewajiban bagi insan yang ingin sukses.. Bukankah sebuah hadist berbunyi "barang siapa yang menginginkan dunia,hendaknya ia berilmu....barang siapa yang menginginkan akhirat,,hendaknya ia berilmu...Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya ia berilmu..."

6. kekuatan disiplin
ibarat tetes air yang mampu melubangi batu besar dan keras, begitulah disiplin diri yang akan menghasilkan kesuksesan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal positif ini pula yang harus kita tanamkan dalam diri.

7. kekuatan cinta
seorang ibu rela mengorbankan apa saja demi anaknya. Cinta dapat merubah segalanya, membuat berbagai keajaiban, membuat segalanya menjadi mungkin.



"sudahkah kita memaksimalkan potensi diri kita??"

Sabtu, 14 Agustus 2010

Maafin Na, ayah...

Aaamin… kututup do’a ku seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi… aku masih tertegun di gundukan tanah itu,, kenangan-kenangan masa lalu berkelebat di pikiran ku.. Ah, tapi kenangan hanya tinggal kenangan,, yang tersisa hanyalah penyesalan belaka…

***

“Na ga mau ayah, Na ga suka. Na maunya masuk ke sekolah favorit,, SMA favorit,, ayah kan udah janji sama Na”, protesku saat ayah tidak mengabulkan keinginanku untuk masuk ke SMA favorit. Kenapa sich keinginanku tidak di kabulkan,, sementara kakak ku dengan bebas menentukan pilihannya sendiri. Aku tidak bisa menerima ketidak adilan ini, aku juga ingin dituruti, bukan selalu menuruti. “ini semua kan untuk Na juga, makanya ayah ga mau menyekolahkan Na di SMA favorit”, ibuku menengahi perdebatanku dengan ayah. “Tapi bunda….”, kata-kataku tercekat di kerongkongan. Aku tak pernah bisa membantah mereka, walau di awal aku akan bersikeras dengan pilihanku, tapi pada akhirnya aku tetap mengalah.

Pada akhirnya aku menghabiskan masa remajaku di sekolah pilihan ayahku. Benar kata mereka, ini semua untukku, untuk kebaikanku. Seminggu lagi aku yudisium, hmmm akhirnya tamat juga dari sekolah ini. “Na, kamu di panggil ke kantor tu”, seru teman ku. What??? Kantor??? Oh tidak,,ada apa ini?? Bahkan aku tak pernah melakukan kesalahan,, aku termasuk murid teladan di sekolah. Kenapa bisa di panggil??? Dengan perasaan tak tenang, aku segera melangkahkan kakiku ke kantor.

“selamat ya Na, berkas-berkasmu diterima di Universitas Negeri Malang jurusan Manajemen”, sambut kak Irma saat melihat kehadiran ku di kantor. “iya kak?? beneran?? Selain Na,,siapa lagi kak??” balas ku. “Tuh si Nisa juga lulus”, jawabnya. Setelah mendengarkan penjelasan gono gini,, aku pun kembali. Akhirnya,, keinginanku terkabul.. aku tak perlu bersusah-susah ujian masuk PTN lagi. Owh,, senangnya. Tapi ayah??? Apa beliau setuju???tidak,,tidak, kali ini aku harus disetujui.

***

Hiks hiks.. Air mataku masih mengalir mengingat kenangan itu, keberangkatan ku ke Malang. Bahkan sebelumnya diwarnai dengan perdebatan antara aku, ayah dan ibuku. Aku menganggap pikiran mereka terlalu kolot, masih saja mengekang anaknya untuk meraih cita-citanya menjadi seorang pakar ekonomi. Apa salahnya, tidak semua anak harus menjadi dokter kan?? Bisa-bisa kebanjiran dokter negeri ini, andai saja setiap anak diwajibkan menjadi dokter oleh orang tuanya.

Aku berangkat ke bandara sendiri, semua-semuanya kulakukan sendiri. “Hmm, belajar mandiri dari sekarang”, batin ku. Sedih sich,, tanpa ayah dan ibu yang mengantar. Tapi tak apa,, daripada mereka menggagalkan keberangkatanku kali ini. Empat tahun kuhabiskan waktuku untuk menyelesaikan studi disini, beruntungnya aku berhasil menyandang gelar cumlaude dan dikontrak oleh sebuah perusahaan besar ternama. Yah, empat tahun yang kuhabiskan tanpa menjenguk kampung sekalipun,, rasa kesal, marah dan ego membuatku enggan melakukannya. Bahkan komunikasipun hanya beberapa kali dalam setahun. Tiap ibu menelponku,, aku jarang menggubrisnya karena aku selalu saja terkenang peristiwa dimalam sebelum keberangkatanku.

***

“Kalau kamu memang berniat kesana, pergilah. Ayah tidak akan pernah melarang mu lagi, lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Tapi ingat, ayah tidak mau membiayai kuliahmu”. Aku tersentak mendengarnya, bagaimana mungkin aku hidup di kota orang tanpa dibiayai. Tapi,ego memaksaku menjawab, “baik ayah, Na akan buktikan kalau Na bisa, tanpa biaya dari ayah”. Aku segera berlari ke kamar, ku hempaskan tubuhku, menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua lara dan kesal di hati. Aku berharap ada yang membantuku. “Na, tenanglah nak, ayahmu tidak mungkin begitu, beliau hanya tidak ingin kamu kesana. Berangkatlah nak jika kamu ingin berangkat, bunda tetap merestuimu”.

Ah, bunda memang selalu menjadi malaikat penolongku. “Tapi bundaaa….”. “Sudahlah, biar nanti bunda yang bujuk ayah, sekarang kamu janji ya kalau disana nanti akan tekun belajar !”, pintanya padaku.

***

“Na, ayo kita pulang. Tidak baik menangisi yang telah dipanggil oleh-NYA, lebih baik kita kirimkan do’a untuk ayah, semoga amal dan ibadah beliau diterima, dan beliau di tempatkan di tempat yang layak disisi-NYA”. Aku mengamini ucapan mas Rian, lalu beranjak dan mengikutinya ke mobil. Beruntungnya aku bisa bersanding dengan seorang lelaki pilihan yang nyaris sempurna, baik, alim, pintar, dan selalu mengingatkanku saat lupa dan salah.

Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam membisu, menelusuri bait-bait penyesalanku, bunga-bunga kebodohanku, dan istana keegoisanku. Ayah pasti bahagia sekali jika saat-saat terakhir aku ada di sampingnya, menemaninya bercerita hanya untuk sekedar menghabiskan hari. Ayah juga pasti bangga tak ayalnya orang tua lain jika saja aku minta untuk hadir di acara wisudaku, apalagi saat itu aku berhasil meraih gelar sarjana dengan peringkat cumlaude, bahkan bisa mendapatkan kontrak kerja dengan perusahaan ternama. Tapi, kini semua hanyalah angan yang tak mungkin terwujud, yang hanya bisa ku titipkan pada awan dan burung yang tengah berkicau.

Setibanya di rumah, ku basuh anggota wudhu’ ku, lalu kugelar sajadah panjang. Allahu akbar, takbiratul ihram mengiringiku untuk berjumpa dengan-NYA. Ku akhiri dengan untaian do’a panjang dan surah Yasin untuk ayah. “Shadaqallaahul’adhiim”, kucium mushaf kecil pemberiannya. Sekarang, semua telah terlambat, aku berjanji pada ayah untuk selalu menjadi yang terbaik.

Harapku

Ku bentangkan sajadah panjang

Di atas bumi yang luas terbentang

Tuk menghadap Raja Agung nan Penyayang..

Kini aku tersungkur di atas sajadah panjang

Meniti bait kekhilafanku di masa yang terkenang

Mengubah alur hidupku tuk masa yang akan datang

Agar aku hidup dalam kasih sayang..

Aku adalah hamba yang dhaif

Selalu mengharap rahmat dan kasih

Dari Raja alam Yang Maha Pengasih

Tiada daya dan upayaku selain mengharap ridha dari yang terkasih

Ya Allah..

Ampunkanlah khilaf dan salahku

Semoga Engkau menghendaki diri ini disisi-Mu..

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI-L-‘ALIYYIL AZHIM..

Asa

Kala mentari datang menerangi

Bercermin diatas bumi

Dengan kuasa Ilahi…

Kutapaki nirwana

Tuk mendapat setitik cahaya

Demi menggapai cita-cita..

Allahu akbar..

Aku menyebut asma-Mu

Subhanallah..

Indahnya keagungan-Mu

‘Audzubillah..

Aku berlindung pada-Mu

Ku bentangkan sajadah suci

Tuk menghadap Ilahi Rabbi

Memohon pada Pencipta langit dan bumi

Dengan segenap jiwa raga ini

Tiada daya hidupku

Tanpa cinta kasih-Mu

Engkaulah sutradara perjalanan hidupku

Memerankan skenario-Mu

Demi menggapai cinta kasih-Mu

Berharap kemenangan ada padaku

Di hari akhir milik-Mu

Jumat, 30 Juli 2010

don't judge a man by it's cover

Mungkin ini hanya sebuah pembelajaran kecil, yang bagi sebagian orang berpikir “haha,,I know it”.. Tapi sebenarnya sangat berarti bagi saya pribadi, benar bahwa kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Bukankah Allah melihat hamba-Nya bukan dari pakaian atau rupanya, tapi dari amal perbuatannya???hadist inilah yang terngiang dihatiku saat itu.

Awal mulanya, saat itu aku tengah berada di ibukota Jakarta, keberangkatan ku kali ini bukan untuk sekedar liburan seperti biasanya, kali ini aku terpaksa datang kemari untuk menjalani pengobatan, ya bertemu dengan seorang professor ahli neurologi, Prof. Dr. H. Yusuf Misbach, S. P. Aku tiba hari senin, pukul 13.50 WIB. Hari selasa, dan Rabu masih belum juga bertemu dengan beliau, ternyata pasiennya sangat banyak. Sekali praktek, beliau hanya menerima 40 orang, dan praktek dimulai pukul 18.00 sampai 02.00 dini hari.. MasyaAllah.. lama sekali,, di kota ku,, tak pernah kutemukan seorang dokter yang praktek segitu lamanya. Singkatnya, aku bisa berjumpa dengan beliau hari kamis, pukul 00.30 WIB.. hahaha,,beliau menyuruhku dirawat inap..haaaa..seperti yang disampaikan oleh dr.Syahrul.

Jumatnya aku dan ibuku ke Mangga Dua, maklumlah,sebelum masuk rumah sakit, aku ingin jalan-jalan dulu. Hari itu kondisiku sangat tidak fit,, sama dengan kondisiku saat aku di kirim ke prof.Yusuf.. baru berjalan sebentar saja aku sudah kelelahan, badan ku tidak bisa diajak kompromi, kakiku mogok jalan, dan nafasku tersengal-sengal.. akhirnya aku harus banyak duduk,,bila terasa sedikit capek, aku akan langsung mencari sebuah kursi agar bisa kudaratkan tubuhku disitu.

Ternyata belanja itu memakan banyak waktu,, tak terasa sudah pukul empat, dan aku tidak menunaikan zhuhur ku, aku masih berpikir,, ah nanti aku jama’ saja, toh aku kan masih musafir. Padahal batas musafir itu tiga hari kan?? Selebihnya harus menunaikan sholat layaknya biasa. Tapi aku tak ambil pusing, dalam pikiran ku hanya "aku adalah musafir". Sungguh bejat y.. Padahal ibuku sudah mengingatkanku tadi saat zhuhur.

Pulangnya, untuk kembali lagi ke hotel kami menggunakan busway,, lebih aman, nyaman, dan tidak macet.. Aku duduk di stasiun penyeberangan yang menghubungkan halte busway dan jalan. Jujur saat itu kaki ku benar-benar tak kuat lagi, rasanya tulang ku remuk, badan ku tak sanggup lagi aku tegakkan,, Rabbii… aku benar-benar lelah… Aku duduk termenung disitu,, bersama ibuku tentunya, melepas lelah.

Tiba-tiba, 3 orang remaja dengan pakaian sedikit minim melintas di depan Q, mungkin banjunya bukan minim seperti yang biasanya kita lihat,, tapi pakaian pendek dan tidak berjilbab, sangat berbeda dengan pakaian yang ku pakai.. Tapi sikap mereka membuat ku malu padadiri ku sendiri,, tahukah kalian apa yang mereka katakan,, seorang temannya berkata “kamu ga shalat dulu??? Sudah ashar lho..nih ada mushalla”,, temannya menjawab “iya dech,,temani aku shalat dulu y”. MasyaAllah,, aku dan ibuku tersentak mendengarnya. “Tuh kan dek, dia aja pakaiannya gitu, ga pakai jilbab, tapi masih ingat untuk shalat, masa sich kalah sama adek”.

Ibuku benar, aku saja saat di ingatkan untuk shalat masih mengelak dengan alasan ntar aja mak, di jama’ aja. Rabbii, hari ini aku sadar, bahwa tidak semua orang bisa dinilai dari penampilannya saja. Buktinya 3 remaja tadi merupakan sebuah ejekan untukku, sekaligus teguran. Rabbiy, sungguh halus cara Mu menegur seorang hamba, mungkin saja amalan-amalan yang dilakukan remaja tadi lebih baik dari ku. Hari ini aku tahu, bahwa aku masih terlalu kerdil untuk menyombongkan diri, dan hari ini aku sadar bahwa kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. hmmm "don't judge a man by it's cover"

Laman

Free Blog Templates

welcome to my blog...
sharing ilmu, cerita-cerita atau ngegosip disini......
hehe

this is a very simple blog..because I'm a newbie here...

^_^
Powered By Blogger

Friends Link

Tag Cloud

My Playlist

 
Template by Administrator Frelia | Anak SD | Blogger